Senin, 10 November 2014

Detik-detik Menuju Internship Perdana

Niat memulai internship pertamaqu.. Bismillahirrohmanirrohim

Entah bingung, galau, risau, pusing atau apalah namanya perasaan saya saat ini. Sebenarnya ini baru block ke dua saya di jenjang master yang artinya masuk bulan ke empat. Sebagai informasi, di sini course dibagi kedalam 4 block alias kuarter alias caturwulan (masa sekolah jaman tahun 90-an, semasa saya duduk di bangku SD).  Namun sudah dibebankan penyusunan proposal internship. Artinya saya harus memulai melakukan riset di salah satu lembaga bisa di universitas, balai riset negara atau perusahaan tertentu. 

Jelas pusing bukan kepalang, bahasa Inggris saja belum lancar ditambah lagi adaptasi dari materi pelajaran, metode pembelajaran, jenis ujian, budaya setempat eh sekarang harus memikirkan kegiatan magang (internship). Jika harus terjadi maka terjadilah, saya hanya perlu persiapan untuk menghadapinya yang entah seberapa matang persiapan saya kali ini.

Saat saya menceritakan hal ini, saya benar-benar pusing tapi sedikit merasa tertantang juga (hehehe..). Agak bingung harus memulai dari mana karena itu saya putuskan mencari literatur terkait tema internship. Hal yang masih menjadi kekhawatiran saya adalah lokasi internship yang tidak berada satu kota dengan tempat tinggal saya. Artinya ini akan jadi kegiatan yang menghabiskan tenaga, pikiran dan dana (ongkos bolak balik.. waduh). Jika proposal internship saya berjalan lancar. Saya akan memulai kegiatan di bulan Februari dengan atmosfer yang berbeda. Jelas saja, lokasi baru artinya saya akan bertemu dengan orang-orang baru dan situasi baru. Huff.. di kota yang saya tinggali ini saja, saya masih sering nyasar sekarang saya diajak untuk mengenal kota lain. Rencananya, magang akan berlangsung selama 6 bulan (saya hanya bisa berdoa semoga lancar, tepat waktu, tepat sasaran dan hasilnya bisa saya pertanggungjawabkan). 

Tema magang saya sebenarnya cukup menarik (maaf karena belum disetujui, jadi belum saya paparkan yap) namun masih sedikit literatur yang membahasnya. Tentu ini jadi kendala tersendiri sekaligus tantangan bagi saya. Meski jujur ini bukan kali pertama saya melakukan riset dengan minimnya literatur tapi saya tetap saja khawatir. Penguasaan materi masih tergolong minim, skill pengoprasian alat-alat penunjang juga sama minimnya (saya itu gagap teknologi). Jadi, saya hanya bisa berdoa dan berusaha karena cepat atau lambat saya akan menghadapinya bukan! Satu demi satu akan saya hadapi, setidaknya saya sudah bertemu dan berkenalan dengan dosen pembimbing serta supervisor saya nanti. Jadi saya sudah mengambil langkah awal, sekarang bagaimana melanjutkan ke langkah berikutnya.

Sebenarnya saya merasakan banyak keterbatasan dalam diri saya. Bagaimana tidak, sudah lama saya tidak belajar materi science baik dari teks book maupun praktik. Jelas karena setelah lulus sarjana tahun 2010, saya memutuskan menimba ilmu di dunia kerja. Itu pun tidak sejalur dengan materi perkuliahan saya sekarang. Namun demikian, saya cukup puas karena ilmu pengetahuan yang saya peroleh di dunia kerja menjadi bekal softskill saya saat ini. Untuk perkuliahan, saya hanya perlu kembali memahami alam. Mengenal dan melihat alam lebih dekat, sama seperti yang saya lakukan semasa di bangku sarjana, hanya saja kali ini lebih kompleks dengan dunia yang jauh lebih global. Oleh karena itu saya perlu berusaha lebih giat. Jangan menyerah, Go wanya go!  

Jika harus terjadi, maka terjadilah... saya hanya perlu menghadapi... semangat!!   

Sabtu, 01 November 2014

Merantau Lagi Lagi dan Lagi

Nijemegen, ini destinasi rantauan saya sekarang. Yup, benar sekali! Saya sudah beberapa kali merantau tetapi sebelumnya hanya di seputar negeri sendiri seperti Bogor dan Fakfak (Papua Barat).
Di ketiga daerah tersebut saya pasti menemukan hal-hal berbeda yang terkadang menyenangkan dan kadang kurang mengenakan bahkan membuat saya berpikir untuk kembali ke tempat sebelumnya. Namun, entah kenapa saya selalu memilih untuk menghadapinya, bukan karena saya kuat atau hebat tetapi karena saya menemukan kekuatan baru di sana sebut saja teman baru, keluarga baru ataupun sekedar motivasi baru :)
Bogor (destinasi rantauan pertama saya) membuat saya sadar betapa indahnya Kendari (kota asal saya). Jelas saja karena saya pecinta zona maritim alias daerah pantai dan saya tidak menemukannya di Bogor jadi saya sempat kecewa. Tapi.. itu hanya di awal karena selanjutnya banyak hal menyenangkan di Bogor sebut saja kebun raya, curug dan puncak terlebih lagi aneka macam masakan khas daerahnya yang membuat saya betah. Bogor memiliki suhu rata-rata yang tergolong nyaman karena terletak di dataran tinggi membuat udara di sana cukup sejuk (tidak sepanas di Kendari lah ya). Belum lagi makanannya dari asinan, soto bogor, gado-gado, karedok, lontong sayur, batagor, cireng, tahu isi sampai bala-bala saya suka. Namun demikian, semasa di sana saya tetap merindukan santapan ikan bakar khas orang buton (suku di Sulawesi Tenggara). 
Hingga suatu saat, saya merantau ke negeri timur Indonesia tepatnya di Kabupaten Fak-kak untuk menjalankan tugas pengabdian. Dari iklimnya, di sana tidak jauh beda dengan daerah kelahiran saya yaitu kota Kendari. Suhu daerahnya tergolong panas karena terletak di dataran rendah dan berada di daerah pantai. Makanannya tentu seputar seafood cukup berbeda dengan kampung halaman saya. Di sFak-fak, masakan seringkali diberi bumbu pala (buah khas Fakfak yang tergolong rempah-rempah). Belum lagi adat istiadatnya seperti bakar komunian (batu Arab), taro harta (adat pernikahan) dan ritual lainnya makin membuat saya jatuh cinta dengan Indonesia yang memiliki beragam adat istiadat. Saya hanya setahun di sana, jelas tidak lama tapi saya mendapat pelajaran hidup berharga yang bisa saya kenang seumur hidup.

Harta untuk mas kawin kepada pengantin Wanita di Fak-fak

Ketika di Fak-fak, lagi-lagi saya merindukan Bogor dengan segala kenyamanannya. Fasilitas internet, jaringan komunikasi via mobile phone, aneka masakan Bogor, udara sejuk dan air yang selalu tersedia membuat saya rindu dengan kehidupan di Bogor. Namun keterbatasan hidup di Fak-fak tidak membuat saya berhenti mencintai Fak-fak bahkan saya lebih bersyukur bahwa saya bisa merasakan hidup di sana. Fak-fak, dengan segala keterbatasannya menawarkan keistimewaan alam raya maritim yang pernah saya lihat. Sumber kekayaan alam melimpah dengan keindahan lautnya sungguh mempesona bahkan beberapa kali saya menerjang lautan hanya untuk melihat seberapa eloknya negeri cendrawasih ini. Yup, itu jelas terbalas karena keindahan yang saya lihat dengar dan rasakan di sana menutup segala keterbatasan wilayahnya. Motivasi baru pun muncul, di sana sumberdaya manusia belum banyak yang terdidik jadi saya memilih untuk mendidik anak-anak di sana melalui profesi guru di sebuah sekolah dasar di daerah pedesaan. Saya bukanlah superhero ataupun penguasa tapi setidaknya saya bisa menolong beberapa anak di sana untuk memahami pelajaran baik matematika, ilmu alam maupun soial sekaligus menjadi penguasa atas diri saya. Berbahasa, berprilaku baik serta memiliki kepercayaan diri adalah tujuan saya untuk anak-anak itu. Lalu anak-anak itu, ya merekalah yang mengajarkan saya menjadi superhero sekaligus penguasa atas diri saya. 

Siswa-siswi kelas 5, murid perwalian saya di Fak-fak 
Saya takut gelap, tikus, darah, cerita hantu dan masih banyak lagi tapi karena anak-anak di Fakfak. Saya seringkali menembus jalan gelap gulita hanya untuk memberi pelajaran tambahan yang entah untuk kesekian kalinya juga mengalami hal-hal mistis di perjalanan. Saya sempat mengobati beberapa orang anak dan masyarakat yang terjatuh ataupun kecelakaan sehingga membuat bagian tubuh mereka (kaki, tangan ataupun kepala) berdarah. Saya juga betah tinggal di daerah yang banyak tikusnya. Ckckckck... saya benar-benar merasa menjadi orang lain seperti seseorang yang bukanlah diri saya. Jelas keterbatasan di sana membawa motivasi baru bagi saya yang pada akhirnya membawa saya ke destinasi rantauan saya saat ini, Nijmegen.    
Nijmegen adalah salah satu kota tua (masuk dalam jajaran kota tertua) di Belanda. Di sini saya melanjutkan studi strata dua. Dua bulan lebih sudah saya di sini, Udara dingin, masakan yang kurang disukai lidah, bahasa asing, pelajaran yang tidak mudah menjadi tembok raksasa yang harus saya lewati. 
Kegiatan sehari-hari di kamar (mencoba memahami materi kuliah di laptop tersayang)

Suatu hari, saya mengikuti fieldtrip ke daerah perairan (semacam danau buatan) di sini. Semua orang kecuali saya mengenakan pakaian standar (kaos dan jeans) plus jaket tipis namun saya mengenakan jaket tebal (khas winter). Itu karena bagi saya udara sangatlah dingin meski beberapa orang di sana mengatakan "ini masih musim gugur" yang artinya belumlah terlalu dingin tetapi bagi saya ini adalah winter (musim dingin). Hal lain adalah makanan, lidah saya jelas belum terbiasa dengan Roti-keju. Bagi saya nasi tidak bisa digantikan dengan roti. Namun, perlahan saya membiasakan diri mengkonsumsi roti dan keju sedangkan nasi jelas tetap tidak tergantikan tapi dikurangi :). Belum lagi beberapa mata kuliah yang sulit saya pahami serta konflik sosial yang berpotensi terjadi di sekitar saya. Hmm.. saya sempat berpikir apa saya bisa menghadapi itu semua? Well.. jawabannya belum saya temukan bahkan hingga saat ini. Namun, perlahan saya menemukan hal-hal yang bisa berpotensi menjadi kekuatan saya untuk hidup di sini. Apa itu? Rahasia donk (nanti saya ceritakan, insyaallah). 
Inilah negeri rantauan saya sekarang, seperti yang sudah-sudah saya akan merindukan sesuatu yang tidak saya dapatkan di sini tapi untuk saat ini setidaknya saya hanya harus berusaha untuk beradaptasi dan menerima keadaan di sini. Cepat atau lambat saya akan menemukan hal-hal baik diantara hal-hal kurang menyenangkan. Inilah hidup.. Selamat Merantau "Wanya" eh bukan di sini saya dipanggil "Astri" :) Fighting!!! 


"Merantau tidaklah mudah tetapi bahkan di tengah kesulitan sekalipun masih ada hal-hal menyenangkan".

Jumat, 19 September 2014

Hari Pertama di Kampus Hijau

Bismillah... Tarik napas..

Hari pertama masuk kelas, dag dig dug lah pastinya jantung ini. Berapa banyak ya mahasiswanya? Dari negara mana saja mereka? Adakah teman asal Indonesia? ada yang muslim tidak ya? Wah seperti apa metode belajarnya? de el el.

Well, saat itu sudah tidak terhitung lagi berapa banyak pertanyaan yang hinggap di kepala saya. Yah maklum akhirnya saya merasakan juga namanya belajar dalam ruang belajar internasional, tidak tanggung - tanggung dengan bidang yang bukan dasar keilmuan saya yakni "Biologi dengan spesialisasi Manajemen Air dan Lingkungan" karena dasar keilmuan saya adalah perikanan (Gak jauh lah ya, menyemangati diri). 

Benar saja ketika menginjakan kaki pertama kali di kelas, jantung ini terus saja berdegup kencang padahal tidak sedang dikejar hutang ataupun makhluk gaib :)
Yah mungkin karena banyak bule eh orang asing di kelas. Hari pertama, kami (mahasiswa baru) diberi pengarahan oleh 2 orang dosen yang belakangan saya tahu bernama Prof. Hans De Kroon dan Prof. Jan Hendriks. Kedua bapak tersebut juga didampingi oleh seorang penasihat alias konselor (ibunya para mahasiswa) yang bernama Dr. Conny Mooren. Mereka pun memulai pengantar kelas Biologi dengan memperkenalkan bidang keilmuan dan jenis riset yang dapat dilakukan oleh mahasiswa jurusan Biologi. Cakupan keilmuan untuk jurusan ini cukup beragam namun saya tidak akan membahasnya di sini.

Kali ini saya hanya ingin berbagi tentang pengalaman saya hari itu, karena menurut saya ini adalah hal tidak penting yang cukup berkesan dalam hidup saya (hehe...).
Saat itu semua orang cukup tertarik untuk menghadiri pertemuan kelas pertama kami tidak terkecuali saya. Jelas saja, saya tiba 15 menit sebelum jadwal dimulai tetapi kelas sudah hampir penuh. Walhasil saya harus mencari-cari tempat duduk mana yang masih tersedia dan jadilah saya duduk di ujung baris ke dua dari lima baris di ruangan. Syukurlah (sambil mengelus dada).

Teman pertama yang saya kenal bernama Mandy. Dia perempuan berkebangsaan asli Belanda yang juga mendapat gelar kesarjanaannya di universitas ini (Radboud University). Kebetulan Mandy duduk disebelah saya dan jadilah kami berkenalan walau sebenarnya saya juga lupa siapa diantara kami yang pertama kali mengajak berkenalan. Mandy cukup ramah dan banyak memberi saya penjelasan tentang kampus yang tentunya dijelaskan juga oleh para dosen di depan kelas (ketahuan bahasa Inggris saya kurang bagus jadi banyak nanya lagi ke teman di sebelah,hehe..)

Saya semakin terkesan dengan mahasiswa di kelas saya karena ternyata kami berasal dari banyak negara seperti Jerman, Italia, Spanyol, Bulgaria, Rusia, Amerika, Brazil, China, Belanda (Yaiyalah tuan rumah) dan Indonesia yang pastinya negara saya.

Beberapa pertanyaan di atas pun bisa saya jawab. Jadi saya adalah satu-satunya orang Indonesia di Kelas saya hari itu tapi saya juga punya teman Indonesia di jurusan lain yang masih satu fakultas yaitu Medical Biology (masih sepupuan dengan jurusan saya) karena kelas perkenalan digabung jadi saya bisa bertemu Niha teman Indonesia saya itu. Hari itu, kelas digabung tetapi hanya untuk perkenalan saja. Jadi saya dan Niha bisa sekelas namun tidak di hari - hari berikutnya (hiks). 

Kala itu, suasana semakin hangat (dalam artian sebenarnya) karena matahari bersinar cukup cerah menembus dinding kelas. Tidak perlu heran, itu karena dinding kelas kami terbuat dari bahan kaca transparan sehingga memungkinkan cahaya masuk. Dinding kelas (alias kaca) juga dilapisi semacam layar proyektor (LCD) yang bisa dinaikan atau diturunkan sesuai kebutuhan. Jadi, intinya bila cahaya bersinar sangat terik maka layar akan diturunkan tapi kalau mendung atau cuaca tidak begitu cerah maka layar bisa dinaikkan secara otomatis tentunya. Nah ini membuat saya cukup terkesan. Bukan karena teknologinya karena kalau dipikir teknologi yang mereka gunakan biasa saja hanya tombol ON dan OFF untuk layar semacam LCD (ukuran raksasa sih) tetapi karena ide kreatifnya yang memanfaatkan kaca untuk penerang ruangan sekaligus menikmati pemandangan luar nan hijau.

Nah jadilah hari itu sebagai hari pertama saya menjadi mahasiswa magister di kampus hijau. Saya sebut kampus hijau karena kampus ini memiliki banyak taman dengan padang rumput yang luas (semacam rumput gajah ya). Lingkungannya rindang dan segar jadi tidak heran kalau banyak mahasiswa menghabiskan waktu istirahatnya di taman atau bahkan hanya duduk-duduk di atas rerumputan :) 

Disamping itu, saya juga memiliki pengalaman yang cukup membuat wajah saya memerah (malu). Suatu saat masih di hari yang sama saya ingin ke toilet dan jadilah saya mencari-cari tanda atau tulisan toilet yang untungnya tak butuh waktu lama untuk saya temukan. Saat itu, saya cukup terburu-buru dan langsung menarik gagang pintu untuk dibuka namun entah kenapa pintu tidak juga terbuka. Saya tak hilang akal, saya makin menariknya dengan sekuat tenaga namun tidak juga terbuka. Lalu datanglah seorang kulit putih (dalam artian sebenarnya bukannya rasis ya) yang belakangan saya tahu adalah teman sekelas saya memberikan petunjuk untuk mendorong pintu tersebut. Ya benar saja, pintu dengan mudah terbuka (hahaha karena itu sih  malu banget). Saya juga masih kikuk ketika harus minum dari keran di wastafel seakan tidak percaya kebersihan air nya. Yah maklum, air kamar mandi di daerah saya mana ada yang langsung diminum. Maka dari itu sebelum minum saya tak lupa membaca basmallah sambil berdoa semoga airnya adalah air yang menyehatkan (aamiin).

Terus terang saya cukup takjup dengan desain bangunan fakultas saya, tidak hanya moderen tetapi juga artistik. Bangunan tidak hanya berbentuk persegi atau kotak tetapi banyak ornamen sudutnya seperti sarang lebah. Tangga - tangga juga dibuat transparan sehingga jika saya menaiki tangga maka saya dapat melihat keadaan dibawah. Hmm.. sebenarnya ini membuat saya agak khawatir karena takut dengan ketinggian. Namun itu hanya kekhawatiran berlebihan karena tangga dibuat sangat aman dengan jarak anak tangga yang cukup dekat satu sama lain bahkan dengan pegangan disepanjang tangga jadi sebenarnya tidak perlu khawatir (ada - ada aja). Well.. maklumlah masih penyesuaian.

Begitulah cerita pertama saya di hari pertama di kampus hijau. Bismillah semoga hari - hari berikutnya menjadi hari yang lebih menyenangkan :)

Minggu, 07 September 2014

Kota Nijmegen di Mataku

Nijmegen, kota kecil di negeri kincir air ini menyimpan banyak sejarah. Jelas saja, karena kota ini merupakan salah satu kota tertua di Belanda. Pada tahun 1944, kota ini dibom karena disangka wilayah Jerman (Duh kasian sekali).

Namun, pembangunan terus dilakukan hingga menjadi seperti sekarang. Meskipun kota tua, tidak sedikit bangunan moderen hingga bernuansa artistik yang dibangun di sini. Sebut saja Nijmegen Central Stasiun bentuknya tidak bergaya klasik apalagi gedung fakultas science di Radboud University tempatku melanjutkan kuliah bahkan jauh dari kata kuno.

(Gbr 1. Gedung Fakultas Science di Radboud University)

Di sini orang-orang senang bersepeda jadi tidak perlu heran kalau yang namanya motor jarang ditemui. Saya pun termasuk salah satu pengguna sepeda. Tenang saja, bagi yang baru belajar sepeda tidak perlu khawatir karena kota ini juga menyediakan jalur roda dua khususnya sepeda di sini. Bahkan rambu-rambu lalu lintasnya terbagi untuk roda empat, pejalan kaki dan sepeda. Benar - benar kota yang mengutamakan keselamatan pengguna jalan. Saya semakin takjub dengan masyarakatnya yang tidak hanya usia dini tetapi juga kaum lanjut usia juga terbiasa bersepeda bahkan dengan kecepatan selayaknya kaum muda. Benar - benar sehat kan.

(Gbr 2. Parkiran Sepeda di Radboud University) 

Disamping itu, Kota ini juga sangat mempertahankan hijauannya. Banyak taman di tengah kota yang dapat dinikmati terlebih lagi saya menemukan sebuah taman cantik dengan pemandangan benteng pertahanan peninggalan romawi. Jadi kota ini benar-benar penuh sejarah lengkap dengan udaranya yang begitu segar dan bersih. Wah, kota ini benar - benar membuat saya makin betah di sini :)


(Gbr 3. Taman di Tengah Kota Nijmegen)

Jumat, 29 Agustus 2014

Menginjakan Kaki di Negeri Kincir Angin

Selasa, 26 Agustus 2014...

Waktu menunjukan pukul 05.40 pagi, saya tiba di bandara internasional Schipol Belanda. Petugas imigrasinya cukup ramah, dia bertanya tentang tujuan kedatangan saya sampai universitas dan jurusan yang akan saya ambil untuk studi. Cukup lancar terlebih lagi dengan sedikit senyuman di wajahnya, itu jelas membuatku sedikit tenang.

Sebagai informasi, ini pertama kalinya saya berpergian ke luar negeri. Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand saja belum pernah saya injak tetapi thank you Allah memberikan saya kesempatan menginjakan kaki di negeri kincir angin ini.

Di sini saya sedang melanjutkan studi untuk program master biologi tepatnya di Radboud University Nijmegen. Salah satu universitas ternama di Belanda. Nijmegen adalah kota kecil di Belanda tidak seperti Amsterdam yang katanya ramai, di sini lebih sunyi namun bagiku ini tetap saja kota besar dengan peninggalan bangunan kuno yang masih terjaga. Jelas saja karena Nijmegen merupakan kota tertua di Belanda.

Dari Schipol ke Nijmegen hanya memakan waktu kurang lebih 1,5jam via kereta api. Kereta api di sini sangat nyaman. Keretanya bertingkat dan dalam kondisi baik maksudnya tempat duduknya saling berhadapan dan empuk. Saya pikir ini adalah ruangan kelas VIP tetapi ternayata itu adalah kelas biasa atau yang di Indonesia dikenal dengan kelas Ekonomi.

Saat saya tiba di kota Nijmegen, saya disambut oleh hujan rintik-rintik. Jadilah saya ke sana - kemari dengan barang yang cukup merepotkan ditambah udara dingin yang melanda. Namun, saya cukup beruntung karena saya dijemput oleh teman ayah saya bernama Pak Anema. Beliau seorang kebangsaan Belanda yang cukup lama tinggal di Indonesia (lebih dari 10 tahun) sehingga beliau paham betul bahasa Indonesia (hehe.. beruntung kan). Beliau juga meminjamkan saya sebuah jaket hujan, jadilah hari itu saya mondar - mandir bersama beliau untuk mengurus administrasi di kampus dan di asrama.

(Poto selfie bersama Pak Anema)

Kami berpisah pukul 14.00, karena beliau harus kembali ke Amsterdam tempat tinggalnya. Namun beliau sudah mengantar saya sampai ke asrama. Beliau juga telah menjelaskan beberapa hal penting yang perlu saya ingat seperti :
1. Di sini sangat disiplin tentang waktu. " Kalau kamu ada kuliah jam 08.10, kamu harus datang pada jam itu. Jangan dilebihkan jadi jam 08.15. Ingat ya!"
2. Hati-hati kalau menyebrang, di sini ada jalur untuk mobil, sepeda dan pejalan kaki. "Kalau jalan kaki ya gunakan jalur untuk pejalan kaki, kalau naik sepeda kamu harus di jalur sepeda. Patuhi rambu lalu lintas! Kalau merah kamu berhenti, kalau hijau baru kamu jalan".

Sip... Oke pak, terimakasih. Itulah pengalaman pertama saya di negara kincir angin :)


Kembali Nge-blog

Subhanallah...

Blog ini sudah berapa lama saya tinggalkan. Kepikiran untuk buka akun baru eh pas diingat-ingat akun lama aja jarang difungsikan. So, daripada mubazir (yah.. walaupun gak akan basi sih) blog ini akan saya fungsikan kembali karena menulis adalah sesuatu yang sudah lama terlupakan oleh saya.

Bismillah... Selamat Menulis Astri Wana Wanya Nana Astriwana :)

Sabtu, 18 Juni 2011

Ngumpul Bareng Teman Lama

Wooow...gak nyangka dah gede aja..dah tua aj...
12 Juni 2011, q bertemu kembali dengan kedua teman kecilq Tyas dan Titin. Mereka adalah teman2q ketika memakai seragam merah putih dan putih biru di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Terakhir kali ketemu Titin & Tyas SMP kls 3. Itupun minggu pertama kenaikan kelas karena di minggu ke dua, q dah pindah di Bogor. Berwalal dari ketidaksengajaan yang mempertemukan q dengan temannya Tyas di tingkat Tahap Persiapan Bersama semasa kuliah, Ratih namanya. Ternyata Ratih ini Teman Sekolah Tyas waktu di Bekasi. Akhirnya melalui Ratih, Tyas menemukan FBq. Setelah itu, q & Tyas temenan di FB trus jadi deh nemuin teman2 lainnya di FB salah satunya Titin. 
Setelah menyusun tgl ketemuan, dapet juga deh wktu yang pas buat ketemuan yaitu Minggu 12 Juni 2011 bertempat di rumah Tyas daerah Bekasi. Berbekal petunjuk arah dari Tyas, q ma Titin nyampe juga d rumahnya...

Flash Back dlu...
Sebelum ke rumah Tyas, q janjian dulu tuh sama Titin untuk ketemuan di stasiun Tanjung Barat. Pertama ketemu...huiiihhhh...Titin masih seperti dlu, penampilan sih boleh berubah kelakuan iseng teeeeteeeep...ngehina orang (dlm artian positif_becanda) always forever gak bisa ilang...hahaha
Titin itu, salah satu orang yang qkagumi bukan apa2. Orang biasanya nangis kalo diganggu atau dijahilin atau karena dimarahin nah dia nangis karena dapat nilai 8 di pelajaran Fisika. Gubbbraaakkk...q aja dapat 6 dah senangnya setengah mampus...
Setelah ketemu Titin, kami menuju rumah Tyas menggunakan jalur angkot. Ckckck karena seribu tahun gak ketemu (lebay_mode on) akhirnya sepanjang perjalanan sibuk berkisah sampai2 jalan dah kelewat kita gak nyadar..padahal dah nitip abang angkot buat turunin kita di jalan A, eh si abang angkot juga baru ngasih tahu "neng dah kelewat tempat yang mau dituju" trus qjawab "kok gak bilang dari tadi bang" si abang " udah ngomong dari tadi neng, tapi nengnya pada sibuk ngobrol, jadi abang lempeng aj" guuubraaakk hahhaha...q ma Titin cuma bisa cengar cengir....

Yupz balik k rumah Tyas.. qt ketemu mama papanya trus ngobrol2, makan2, ngobrol lagi sambil makan teeetep...trus buka2 album kenangan deh...Untung Tyas nyimpan album kenangan masa sekolah di Kendari dulu. Sayang gak da q nya coz dy baru punya kameranya pas q dah pindah itu juga yang masih pake sistem cuci cetak itu lho....Hmmm gak papa lah bisa lihat wajah2 teman lamaq di poto itu juga dah bikin senang...
Selanjutnya pingin ketemu banyak teman lama lagi...waktu di SMP q punya teman2 dekat lainnya lebih tapatnya disebut "5 setangkai" mungkin karena pada kurus-kurus jadi disebut tangkai tapi ada juga yang nyebut qt "5 setan" hahahha...mungkin karena pada jahil kecuali q tentunya...hmmm apapun itu q pingin ketemu mereka (Oko, Novi, Maya, Titin, Me = 5 setangkai). Baru kesampaian ketemu Titin, kalo Tyas bukan anggota karena dia gak kayak tangkai dan pastinya jauh banget dari kesan setan.




Hoping that I can meet u again, my old friends,,,Miss u all